Jumat, 05 April 2013

Dinamika dan Pewarisan Budaya dalam Rangka Integrasi Nasional

Kebudayaan diperoleh melalui proses belajar. Bayi yang baru lahir belum bisa secara langsung mewarisi kebudayaan. Bayi tersebut akan memperoleh kebudayaan melalui pewarisan budaya. Meskipun demikian pewarisan budaya tidak terjadi seperti halnya pewarisan benda pusaka. Pewarisan budaya ditempuh melalui proses belajar seseorang dari lingkungan sekitar. Kebudayaan merupakan proses adaptasi manusia terhadap kehidupan. Selain itu, kebudayaan merupakan pola adaptasi manusia terhadap lingkungan sehingga ketika lingkungan berubah, berubah pula kebudayaannya. Dalam bab ini, Anda akan mempelajari dinamika dan pewarisan budaya dalam rangka integrasi nasional. Namun, terlebih dahulu akan diuraikan mengenai unusr-unsur budaya universal.

Unsur-Unsur Budaya Universal

Kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat tidak diwariskan secara biologis, tetapi diperoleh melalui proses belajar. Kebudayaan tersebut didapat, didukung, dan diteruskan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan merupakan pernyataan dan perwujudan dari kehendak perasaan dan pikiran manusia. Oleh karena itu, kebudayaan dapat berkembang dari tingkat yang sederhana menuju yang lebih kompleks atau modern sesuai dengan tingkat pengetahuan manusia pendukung kebudayaan tersebut. Kebudayaan manusia yang kompleks tersebut dapat diperinci ke dalam unsur-unsur yang lebih khusus. Kebudayaan setiap masyarakat, baik kebudayaan yang sederhana maupun yang modern memiliki unsur-unsur kebudayaan. Setiap unsur tersebut akan saling berkaitan dan membentuk suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Para ahli antropologi memiliki pandangan yang berbeda dalammerumuskan unsur-unsur suatu kebudayaan. Melville J. Herskovits merumuskan empat unsur pokok kebudayaan, yaitu sebagai berikut.
1. alat-alat teknologi (technological equipment)
2. sistem ekonomi (economic system)
3. keluarga (family)
4. kekuasaan politik (political control)
Adapun menurut Bronislaw Malinowsky, suatu kebudayaan harus memiliki unsur-unsur pokok sebagai berikut.
1. Sistem norma yang memungkinkan masyarakat untuk saling bekerja sama sehingga dapat menguasai dan menaklukkan alam sekitar (the normatic system).
2. Organisasi ekonomi (economic organization).
3. Alat dan lembaga pendidikan, yaitu keluarga yang merupakan lembaga pendidikan utama (mechanism and agencies of education).
4. Organisasi kekuasaan (the organization of force).
Lebih lanjut Koentjaraningrat, mengutip Kluckhon merumuskan unsur-unsur pokok kebudayaan berdasarkan pendapat para ahli antropologi menjadi tujuh unsur, yaitu:
1. bahasa,
2. sistem pengetahuan,
3. organisasi sosial,
4. sistem peralatan hidup dan teknologi,
5. sistem mata pencarian,
6. sistem religi,
7. kesenian.
Rumusan unsur-unsur kebudayaan tersebut disebut unsur-unsur kebudayaan universal atau cultural universal. Unsur-unsur tersebut dianggap universal karena terdapat dalam semua kebudayaan dari semua bangsa yang ada di dunia ini. Tujuh unsur kebudayaan itu dapat dijumpai dalam semua wujud kebudayaan, mulai yang kecil, sederhana, sampai pada ke kebudayaan yang besar dan berkembang. Selain itu, unsur-unsur tersebut dapat dijumpai dari waktu ke waktu dengan fungsi dan substansi yang sama, tetapi terdapat perbedaan dalam bentuk, kualitas, dan kuantitasnya.
Ketujuh unsur kebudayaan tersebut dapat dijabarkan ke dalam tiga wujud kebudayaan. Adapun ketiga wujud kebudayaan itu menurut Koentjaraningrat adalah, pertama berupa sistem budaya (cultural system). Pada tahap ini wujud kebudayaan bersifat abstrak karena berkaitan dengan ide-ide (gagasan), nilai-nilai, dan normanorma yang mengikat pada masyarakat pendukungnya. Wujud kedua adalah sistem sosial, yaitu keseluruhan aktivitas dan tindakan manusia yang berpola dalam masyarakat pendukungnya. Aktivitas sosial dapat diperinci dalam tahap-tahap. Tahap pertamanya diperinci dalam berbagai kompleks sosial, kemudian tiap kompleks sosial diperinci lagi ke dalam pola-pola sosial. Tiap pola sosial dapat diperinci lagi dalam tindakan-tindakan. Adapun wujud ketiga adalah kebudayaan fisik. Pada tingkat ini wujud kebudayaan bersifat konkret karena berkaitan dengan aktivitas manusia yang berupa benda-benda konkret yang tidak hanya dapat dilihat, tetapi juga dapat diraba dan dirasakan.
Hubungan antara unsur-unsur kebudayaan dan wujud kebudayaan tersebut dapat divisualisasikan dalam diagram berikut.
Diagram Unsur dan Wujud Kebudayaan
Diagram Unsur dan Wujud Kebudayaan
Diagram Unsur dan Wujud Kebudayaan
Diagram tersebut menunjukkan hubungan antara tujuh unsur kebudayaan dan tiga wujud kebudayaan.
Keterangan:
1. Bahasa
2. Sistem pengetahuan
3. Organisasi sosial
4. Sistem peralatan hidup dan teknologi
5. Sistem mata pencarian
6. Sistem religi
7. Kesenian
Wujud kebudayaan digambarkan dengan lingkaran konsentris. Lingkaran paling dalam adalah sistem budaya. Lingkaran tengah adalah sistem sosial dan lingkaran luar adalah kebudayaan fisik. Adapun isi kebudayaan yang terdiri atas tujuh unsur itu membagi ketiga wujud kebudayaan dalam tujuh sektor.
Misalnya, sistem religi atau agama sebagai suatu unsur kebudaya an. Religi agama dalam wujud kebudayaan yang pertama berupa ajaran, filsafat, aturan, dan keyakinan mengenai Tuhan, Dewa, atau keyakinan mengenai alam lain sesudah manusia mati. Agama dalam wujud sistem sosial dapat berupa pelaksanaan upacara dan ritual, kegiatan-kegiatan sosial yang dilandasi nilai-nilai atau aturanaturan keagamaan dan organisasi-organisasi keagamaan. Adapun religi atau agama dalam wujud kebudayaan fisik berupa bangunan candi, patung dewa-dewa, peralatan upacara, dan peralatan ibadah lainnya.
———————————————————————————-
Sekitar Antropologi
Dalam bukunya The Study of Man (1963), R. Linton membagi cultural universal dalam empat tahap, yaitu cultural activities, complexes, traits, dan items. Dalam buku tersebut, Linton memberikan contoh mengenai perincian unsur kebudayaan besar ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil, tetapi hanya wujud sistem sosial dan wujud fisik dari kebudayaan. Ia tidak memberi contoh perincian unsurunsur kebudayaan menurut wujud sistem budayanya.
———————————————————————————-
Dengan demikian, proses setiap unsur dari ketujuh unsur kebuda yaan itu dimulai dari ide, gagasan, nilai, dan norma. Kemudian, sistem budaya akan mendorong manusia pendukungnya ke arah perilaku dalam bentuk aktivitas dan interaksi dengan sesama manusia (sistem sosial). Dari interaksi dan perilaku manusia tersebut kemudian akan menghasilkan peralatan dan benda-benda (kebudayaan fisik).
Uraian mengenai tujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Bahasa

Candi Borobudur
Candi Borobudur
Bahasa menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia adalah suatu sistem tanda bunyi yang secara sukarela dipergunakan oleh anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri. Adapun menurut ilmu antropologi, bahasa merupakan sistem perlambangan manusia, baik lisan maupun yang tertulis untuk berkomunikasi satu sama lain. Dalam etnografi, bahasa merupakan ciri-ciri terpenting yang diucapkan oleh setiap suku bangsa disertai variasi-variasi dari bahasa yang bersangkutan.
Bahasa yang berkembang di dunia terdapat bermacam-macam, walaupun terdapat kemiripan dan persamaan kata dalam tiap jenis bahasa tersebut. Di dunia ini terdapat lebih dari 1000 bahasa yang berkembang dan digunakan oleh umat manusia. Sejumlah manusia yang memiliki ciri-ciri ras yang sama, belum tentu memiliki bahasa yang sama. Contohnya di Asia Tenggara, ada orang Thai, orang Khmer, dan orang Sunda. Ketiga golongan tersebut berasal dari ras Paleo-Mongoloid, tetapi bahasa induk mereka merupakan bahasa yang berlainan. Sebaliknya, ada juga sejumlah manusia yang memiliki ciri-ciri ras yang berbeda, tetapi mempergunakan satu bahasa induk yang berasal dari satu keluarga bahasa yang sama. Contohnya, orang-orang Huwa di Pegunungan Madagaskar, orang Jawa, dan orang Irian. Ketiga golongan tersebut berasal dari ras yang berbeda, orang Huwa dari ras Negroid, orang Jawa dari ras Mongoloid-Melayu, dan orang Irian dari ras Melanesoid. Ketiga golongan manusia tersebut menggunakan bahasa-bahasa yang termasuk dalam satu induk, yaitu bahasa Austronesia.
Bahasa-bahasa yang ada di dunia dapat digolongkan kedalam beberapa induk bahasa. Ciri-ciri menonjol dari satu suku bangsa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa rumpun, subrumpun, keluarga, dan subkeluarga. Hal ini dapat dilihat dari fonetik, fonologi, sintaksis, dan semantik yang diambil dari bahan ucapan (kosakata) yang dipergunakan sehari-hari masyarakat pendukung ras/suku bangsa tersebut. Misalnya di Irian, bahasa-bahasa yang digunakan oleh suku bangsa yang ada di Irian ada yang termasuk dalam keluarga Malenesia. Bahasa keluarga Melanesia merupakan satu bagian dari rumpun bahasa yang lebih besar, yaitu bahasa Austronesia.
Penggunaan bahasa dalam suatu suku bangsa yang tinggal dalam satu wilayah geografis akan saling memengaruhi. Di daerah perbatasan dua suku bangsa akan terjalin hubungan yang sangat intensif sehingga akan terjadi saling memenga ruhi antara unsur-unsur bahasa dari kedua belah pihak. Sebagai contoh, di Jawa terdapat dua suku yang tinggal, yaitu Suku Sunda dan Suku Jawa. Bahasa yang digunakan oleh kedua suku tersebut memiliki kosakata yang sama, tetapi terdapat perbedaan dalam pelafalan dan bahkan dalam arti. Di daerah perbatasan antara dua suku akan terjadi pencampuran bahasa. Sementara itu, dalam suku bangsa yang besar didukung oleh berjuta-juta penduduk akan menunjukkan suatu bentuk yang berbeda. Bentuk tersebut ditentukan oleh perbedaan geografis daerah dan lapisan sosial dalam masyarakat suku bangsa tersebut. Perbedaan-perbedaan bahasa khusus tersebut oleh para ahli bahasa disebut perbedaan logat atau dialek. Contohnya dalam bahasa Jawa, terdapat perbedaan bahasa yang ditentukan oleh lapisan-lapisan sosial dalam masyarakat Jawa. Bahasa Jawa yang dipakai oleh kalangan bangsawan keraton, lapisan priyayi, dan masyarakat biasa sangat berbeda.
Priyayi Jawa
Priyayi Jawa
Priyayi
Bahasa Jawa yang digunakan kalangan bangsawan akan berbeda dengan lapisan priyayi dan masyarakat biasa.
——————————————

2. Sistem Peralatan (Teknologi)

Teknologi yang diuraikan hanya teknologi tradisional. Teknologi tradisional adalah teknologi dari peralatan hidup yang tidak dipengaruhi oleh teknologi dari kebudayaan Eropa-Amerika.
Menurut Harsojo, sistem teknologi yang dimaksud adalah jumlah keseluruhan teknik yang dimiliki oleh anggota masyarakat yang meliputi cara bertindak dan berbuat dalam hubungannya dengan pengumpulan bahan mentah dari lingkungannya. Bahan tersebut dapat diproses menjadi alat untuk bekerja, alat untuk menyimpan makanan atau pakaian, dan alat transportasi serta kebutuhan lain yang berupa materi.
Adapun menurut J. J. Honigmann, teknologi adalah mengenai “… segala tindakan baku dengan apa manusia mengubah alam, termasuk badannya sendiri atau badan orang lain ….” Dari definisi tersebut, Koentjaraningrat mengemukakan bahwa teknologi adalah mengenai cara manusia membuat, memakai, dan memelihara seluruh peralatannya, bahkan mengenai cara manusia bertindak dalam keseluruhan hidupnya. Teknologi lahir ketika manusia mencari dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, ketika manusia meng organisasi kan masyarakat, serta ketika manusia meng ekspresikan rasa keindahan dalam membuat suatu karya seni.
Alat Produksi Zaman Batu
Alat Produksi Zaman Batu
Alat Produksi Zaman Batu
Alat-alat produksi yang digunakan masyarakat kuno zaman batu.
——————
Teknologi tradisional pada masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden) dan masyarakat desa yang hidup dari pertanian, menurut Kontjaraningrat paling sedikit memiliki delapan macam sistem peralatan, yaitu sebagai berikut.
a. alat-alat produksi
b. senjata
c. wadah
d. alat untuk menyalakan api
e. makanan, minuman, bahan pembangkit gairah, dan jamujamuan
f. pakaian dan perhiasan
g. tempat berlindung dan perumahan
h. alat-alat transportasi
Alat-alat produksi adalah alat-alat yang digunakan dalam suatu pekerjaan, mulai yang sederhana (batu untuk menumbuk padi) sampai yang lebih kompleks (alat untuk menenun pakaian). Jika diklasifikasikan menurut bahannya, alat-alat tersebut dapat dibagi menjadi alat dari batu, tulang, kayu, logam, dan bambu. Selanjutnya, jika diklasifikasikan berdasarkan teknik membuatnya, dapat dibagi menjadi empat teknik, yaitu teknik dipukul, teknik ditekan, teknik dipecah, dan teknik digiling. Jika dilihat dari fungsinya alat tersebut dapat dibedakan menjadi alat untuk memotong, untuk membuat lobang, memukul, alat penggiling, alat peraga, alat untuk menyalakan api, dan alat untuk meniup api.
Senjata dapat diklasifikasikan berdasarkan bahan pemben tuknya dan fungsinya. Berdasarkan bahan pembentukan nya dapat dibagi menjadi senjata yang terbuat dari batu, kayu, tulang, bambu, dan logam. Adapun menurut fungsinya, senjata dapat dibagi menjadi senjata potong, senjata tusuk, senjata lempar, dan senjata penolak. Berdasarkan cara peng gunaannya, senjata dapat di klasifikasi kan menjadi senjata untuk berburu, menangkap ikan, dan berperang. Wadah adalah alat untuk menyimpan, menimbun, dan memuat barang-barang. Fungsi lain dari wadah adalah untuk memasak makanan dan membawa barang. Wadah dapat diklasifikasikan berdasarkan bahan pembuatnya, seperti dari kayu, bambu, tempurung kelapa, serat-serat pohon, dan tanah liat. Wadah yang terbuat dari tanah liat lebih dikenal dengan sebutan tembikar.
Sesajen
Sesajen adalah menu makanan yang
khusus diadakan dalam suatu upacara
adat. Aneka masakan tersebut biasanya
ditempatkan pada wadah yang khusus pula.
Makanan jika dilihat dari bahannya dibagi menjadi sayur-sayuran, buah-buahan, daging, biji-bijian, akar-akaran, dan susu. Jika ditinjau dari cara pengolahan atau memasaknya, dibagi menjadi makanan yang dimasak dengan api dan makanan yang dimasak dengan batu panas. Dipandang dari tujuan konsumsinya, makanan dapat diklasifikasikan menjadi makanan (food), minuman, bumbu, dan bahan yang dipakai untuk kenikmatan (misalnya madat dan tembakau). — Pakaian jika digolongkan berdasarkan bahan pembuatnya dapat dibagi menjadi pakaian dari bahan tenun, kulit pohon, dan kulit kayu. Menurut Koentjaraningrat, fungsi pakaian dapat dibagi menjadi empat golongan sebagai berikut.
a. Pakaian yang digunakan untuk menahan pengaruh alam (melindungi dari panas, dingin, dan hujan).
b. Pakaian untuk menunjukkan kelas sosial (gengsi).
c. Pakaian sebagai lambang yang dianggap suci.
d. Pakaian sebagai perhiasan badan.
Berdasarkan bahan pembuatannya, rumah dapat dibuat dari kayu, jerami, batu, dan kulit pohon. Tempat berlindung ini berfungsi untuk me lindungi manusia dari alam (panas, dingin, dan hujan) juga sebagai tempat beristirahat di waktu malam atau ketika aktivitas sehari-hari sudah selesai. Berdasarkan fungsi sosialnya rumah dapat dibagi menjadi:
rumah
Rumah merupakan tempat berlindung dan berkumpul keluarga.
a. rumah tempat tinggal keluarga kecil,
b. rumah tempat tinggal keluarga besar,
c. rumah ibadah,
d. rumah tempat pertemuan, dan
e. rumah pertahanan.
Manusia selalu ingin bergerak ke mana-mana. Oleh karena itu, manusia memerlukan alat bantu untuk memudahkan aktivitasnya. Sejak zaman prasejarah, manusia sudah menciptakan alat transportasi. Alat tranportasi tersebut dapat digolongkan menjadi perahu, rakit, kereta beroda, dan binatang. Adapun di zaman modern dapat ditambah dengan mobil, sepeda, kereta api, dan pesawat terbang.

3. Sistem Mata Pencarian

Para ahli antropologi memusatkan perhatiannya pada sistem mata pencarian. Hal ini terbatas pada sistem yang bersifat tradisional karena perhatian antropologi adalah pada kebudayaan suatu suku bangsa. Sistem mata pencarian tersebut di antaranya:
a. berburu dan meramu,
b. beternak,
c. bercocok tanam di ladang,
d. menangkap ikan,
e. bercocok tanam dengan sistem irigasi,
a. Berburu dan Meramu

Berburu dan Meramu

Berburu dan meramu adalah sistem mata pencarian manusia yang paling tua. Pada masa sekarang, manusia sudah banyak beralih ke bidang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut sejarah, masa manusia memenuhi kebutuhan hidup dari berburu dan meramu berlangsung pada masa paleolitikum (zaman batu tua). Namun, mata pencarian ini masih ada sampai sekarang. Suku bangsa yang tinggal di daerah-daerah yang kurang menguntungkan, menggantungkan hidupnya dari berburu dan meramu (hunting and gathering). Di Indonesia, suku bangsa yang menggantungkan hidupnya dari berburu dan meramu ini terdapat di Papua dan Suku Anak Dalam.
Masyarakat Nomaden
Dalam masyarakat nomaden, berburu merupakan sistem mata pencarian utama.
Dalam masyarakat berburu dan meramu, mereka menggantung kan hidup sepenuhnya kepada alam (in-natural). Alam dijadikan sebagai tempat untuk mencari sumber makanan. Para ahli antropologi dalam mempelajari kehidupan masyarakat berburu dan meramu, memusatkan perhatiannya pada beberapa aspek yang dibagi berdasarkan ilmu ekonomi. Aspek-aspek tersebut di antaranya sebagai berikut.
1. Sumber Alam dan Modal
Meliputi hak layak dan hak milik atas wilayah berburu, sumber air, hak milik atas berburu, senjata yang digunakan untuk berburu, dan alat transportasi yang digunakan ketika akan menuju tempat berburu.
2. Tenaga Kerja
Aspek yang dikaji meliputi kelompok manusia yang melakukan berburu dan meramu, hubungan kelompok dalam berburu, serta masalah kepemimpinan ketika sedang berburu.
3. Produksi dan Teknologi Produksi
Aspek yang dikaji antropologi meliputi teknik dan cara berburu termasuk di dalamnya tata cara yang berdasarkan ilmu gaib, upacara-upacara yang dilakukan ketika akan berburu agar hewan hasil buruan melimpah, dan alat-alat yang digunakan untuk berburu.
4. Konsumsi, Distribusi, dan Pemasaran
Aspek yang dikaji antropologi adalah mengenai adat-istiadat dalam pembagian hasil buruan kepada anggota kelompoknya, cara bagaimana hasil buruan diproses untuk dimakan atau dijual kepada masyarakat di luar kelompoknya.

Beternak

Beternak Domba
Beternak Domba
Beternak yang dilakukan adalah beternak secara tradisional, yaitu memelihara hewan dalam jumlah yang banyak untuk diambil hasilnya, misalnya daging, susu, telur, dan kulit. Mata pencarian ini biasanya di lakukan oleh penduduk/masyarakat yang tinggal di daerah sabana (padang rumput) atau stepa. Masyarakat seperti ini tersebar di daerah Asia Tengah, Asia Barat Daya, Siberia, Afrika Timur, Afrika Selatan, dan suku bangsa yang tinggal di daerah gurun Afrika Utara, khusus di Indonesia hanya terdapat di Nusa Tenggara.
Masyarakat yang bermatapencarian beternak biasanya memiliki sifat-sifat yang agresif. Hal tersebut disebabkan oleh sepanjang waktu mereka harus menjaga keamanan ternak dari serangan hewan liar dan kelompok lain yang menjadi saingannya, serta memperebutkan daerah padang rumput untuk makanan ternaknya. Sifat agresif mereka juga disebabkan oleh kebutuhan makanan mereka, yaitu gandum, beras, sayuran, dan buah-buahan yang biasanya mereka peroleh dengan cara menaklukan, merebut, dan menjajah masyarakat yang bermatapencarian bercocok tanam.
Suku bangsa peternak biasanya hidup secara nomaden (berpindah-pindah). Sepanjang musim semi dan musim panas, mereka mengembara ke daerah yang luas dengan tujuan untuk mencari padang rumput yang subur dan sumber air yang banyak. Namun jika musim dingin, mereka tinggal dan menetap untuk sementara di desa-desa induk.

Bercocok Tanam di Ladang

Berladang
Berladang
Sistem seperti ini biasanya dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di daerah hutan tropis, seperti di Asia Tenggara, kepulauan di Asia Tenggara, di daerah Sungai Konggo (Afrika), dan di daerah Sungai Amazone (Amerika Selatan). Daerah hutan tropis biasanya memiliki tanah yang subur. Hal ini akibat dari daun-daun yang jatuh ke tanah kemudian membusuk.
Cara orang bercocok tanam di ladang adalah dengan membuka sebidang tanah di hutan dengan cara membabat semak belukar, menebang pohon-pohon, kemudian membakar dahan-dahan pohon yang sudah kering. Setelah ladang dibuka, lahan tersebut ditanami dengan jenis tanaman yang tidak memerlukan pemeliharaan yang rumit dan tidak memerlukan irigasi (pengairan). Jenis tanaman yang biasanya ditanam di ladang adalah padi huma, ubi rambat, ubi kayu, terong, nanas, cabe, tebu, pisang, labu, durian, dan cempedak. Setelah 2–3 kali masa panen, ladang tersebut ditinggalkan karena tanahnya kurang subur. Kemudian, mereka mencari dan membuka lahan lain yang kosong. Mereka akan kembali ke ladang yang sudah ditinggalkan selama 10–12 tahun karena pada masa itu lahan tersebut sudah kembali menjadi hutan.
Dalam sistem berladang, biasanya diperlukan orang banyak untuk membuka ladang. Tenaga satu keluarga biasanya tidak akan cukup dan harus meminta bantuan kepada orang lain. Oleh karena itu, pada masyarakat ini biasanya berkembang sistem kerja sama (gotong royong) berdasarkan hubungan tetangga dan persahabatan. Pekerjaan membuka lahan biasanya dilakukan oleh laki-laki, tetapi jika dalam satu kelompok kekurangan tenaga laki-laki maka membuka hutan pun bisa dilakukan oleh wanita.

Menangkap Ikan

Nelayan
Nelayan
Sistem mata pencarian ini termasuk mata pencarian tertua di dunia. Manusia purba yang tinggal di tepi laut, sungai besar, dan danau telah memanfaatkan sumber alam ini untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ketika manusia sudah mengenal cara bercocok tanam, menangkap ikan dijadikan sebagai mata pencarian tambahan. Namun, pada saat ini menangkap ikan dijadikan sebagai mata pencarian yang utama, terutama bagi penduduk yang tinggal di tepi pantai.
Para ahli antropologi mempelajari masyarakat ini dengan memusatkan perhatian pada sumber alam dan modal yang meliputi hak layak terhadap daerah-daerah di sekitar sungai, danau/pantai, hak tempat berlabuh perahu, dan hak milik atas alat-alat untuk menangkap ikan. Cara bekerja dalam menangkap ikan ini meliputi gotong royong dalam menangkap ikan, mengerahkan awak kapal, serta pembagian upah dan bagi hasil tangkapan. Teknologi produksi meliputi cara-cara menangkap ikan, cara memelihara alat-alat perikanan, cara membuat dan memelihara perahu, serta upacaraupacara ketika akan menangkap ikan. Distribusi dan pemasaran meliputi hal-hal yang ada hubungannya dengan cara pengawetan ikan dan organisasi penjualan serta distribusinya.

Bercocok Tanam Menetap dengan Irigasi

Bercocok Tanam
Bercocok Tanam
Bertani
Sebelum ditanam padi, tanah diolah menggunakan cangkul atau bajak.
Sistem mata pencarian ini pertama kali muncul di daerah-daerah yang dekat dengan sungai besar karena di sekitar daerah tersebut tanahnya subur akibat luapan lumpur dari sungai. Daerah-daerah tersebut misalnya terdapat di Sungai Nil (Mesir), Sungai Gangga (India), Sungai Eufrat dan Tigris (sekarang daerah sekitar Irak), serta Sungai Kuning (Cina). Pada masa sekarang, penduduk yang bermatapencarian berladang sudah banyak yang beralih menjadi bercocok tanam menetap. Hal ini disebabkan jumlah manusia sudah meningkat sehingga wilayah hutan banyak yang beralih fungsi menjadi pemukiman tetap. Penyebab lainnya adalah sudah majunya ilmu cara menanam dan adanya irigasi sehingga kesuburan tanah bisa diusahakan dengan cara pemupukan dan pengolahan tanah. Misalnya pencangkulan atau pengolahan dengan bajak. Jenis tanaman yang ditanam juga sudah lebih kompleks, seperti padi, sayuran, buah-buahan, teh, dan kopi. Tanaman yang memerlukan pe melihara an rumit pun sudah mulai dibudidayakan.

Organisasi Sosial

Kehidupan bermasyarakat diatur dan diorganisisasi oleh adat istiadat beserta aturan-aturan mengenai bermacam-macam kesatuan dalam lingkungan hidup dan bergaul. Kesatuan sosial yang paling dekat adalah kekerabatan dan kesatuan-kesatuan di luar kerabat, tetapi masih dalam lingkungan komunitas.
Pada masyarakat tradisional, sistem kekerabatan berpengaruh besar dan sangat mengikat di antara mereka. Seiring dengan perkembangan zaman, fungsi kesatuan kekerabatan biasanya mulai berkurang dan agak longgar. Walaupun demikian, masih banyak suku-suku bangsa di dunia yang masih meme gangnya, seperti di daerah-daerah yang berkebudayaan agraris seperti Afrika, Asia, Oseanis, dan Amerika Latin.
Para ahli antropologi telah banyak meneliti mengenai macammacam sistem kekerabatan, organisasi masyarakat komunitas desa, serta komunitas kecil dan penggolongan masyarakat atau pelapisan sosial. Menurut L. H. Morgan, macam-macam sistem kekerabatan di dunia erat kaitannya dengan sistem istilah kekerabatan. Susunan masyarakat berdasarkan kekerabatan dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok, yaitu sebagai berikut.
a. Garis Keturunan Bapak (Patrilineal)
Susunan masyarakat yang patrilineal, menarik garis keturunan selalu dihubungkan dengan bapak. Hak waris hanya diberikan kepada anggota-anggota kerabat laki-laki, terutama anak laki-laki. Bagi masyarakat patrilineal, laki-laki mendapat penghargaan dan penghormatan lebih tinggi dari pada kaum wanita. Di Indonesia, sistem kekerabatan patrilineal dianut oleh Suku Batak. Struktur bagan sistem patrilineal dapat dilihat dari bagan berikut.
b. Garis Keturunan Ibu (Matrilineal)
Masyarakat genealogis menarik keturunan hanya dihubungkan dengan ibu. Anak-anak menjadi hak ibu, termasuk dalam kekerabatan ibu. Setelah perkawinan pengantin menetap di pusat kediaman kerabat istri. Sistem waris diturunkan kepada anggota kerabat perempuan dan kedudukan sosial perempuan lebih tinggi dari pada laki-laki. Akan tetapi, lelaki tetap berperan sebagai pengelola waktu, harta, usaha, dan adat keluarga. Sistem matrilineal di Indonesia dianut oleh suku bangsa Minangkabau. Pada suku Minangkabau laki-laki berperan sebagai pengelola harta dan adat yang disebut mamak (paman).
Garis keturunan matrilineal dapat dilihat dari bagan berikut.
Struktur Matrilineal
Struktur Matrilineal
c. Garis Parental
Pada masyarakat genealogis yang menarik garis keturunan dari ibu dan bapak (parental dan bilateral) adalah para anggotanya menganggap dirinya kerabat. Dalam memperhitungkan garis keturunan menghu bungkan kepada ibu dan bapak. Anak-anak menjadi hak ibu dan bapak termasuk kerabat dari pihak laki-laki dan pihak istri. Dalam sistem ini tidak ada perbedaan penghargaan antara laki-laki dan perempuan. Sistem ini dianut oleh Suku Sunda, Jawa, dan Kalimantan.
d. Doubleunilateral
Masyarakat doubleunilateral adalah masyarakat yang menganut dua sistem kekerabatan (patrilineal dan matrilineal) yang berlaku dan dijadikan sebagai kesatuan-kesatuan sosial. Semua anggota keluarga adalah kerabat bapak dan kerabat ibu.
e. Alternered
Susunan kekerabatan ini berarah sepihak dan berdasarkan perkawinan yang mengakibatkan anak-anak termasuk kerabat bapak atau termasuk kerabat ibu.
Susunan masyarakat berdasarkan komunitas dibagi menjadi tiga di antaranya sebagai berikut.
1) Perkampungan, terdiri atas para anggota persekutuan yang tidak berkerabat namun tinggal di suatu daerah atau lingkungan yang sama. Mereka merupakan satu kesatuan sosial yang berdiri sendiri, di atas, dan di bawahnya tidak ada kesatuan hidup (adat) lain. Sistem ini biasanya terdapat di Jawa dan Bali.
2) Persekutuan daerah adalah suatu daerah yang merupakan satu kesatuan sosial sendiri dan dalam daerah tersebut ada beberapa kampung. Kampung-kampung tersebut memiliki tata peme rintahan sendiri yang sejenis. Setiap kampung merupakan daerah bawahan dan mengakui persekutuan daerah tersebut sebagai induknya. Misalnya, marga dengan dusun-dusunnya di Sumatra Selatan.
3) Serikat-perkampungan adalah hubungan kerja sama antara beberapa perkampungan yang berdekatan. Persekutuan tersebut memiliki pengurus, tetapi kedudukannya sejajar dengan pengurus kampung-kampung lainnya. Model ini biasanya ter bentuk untuk mengerjakan kepentingan bersama, seperti jalan, irigasi, dan keamanan. Misalnya, serikat-serikat perkampungan yang ada di daerah Batak (Tapanuli Tengah).
Sistem penggolongan masyarakat atau pelapisan sosial dilakukan berdasarkan beberapa hal, yaitu kekayaan, jenis kelamin, pembagian kerja, atau tingkat pendidikan. Menurut sifatnya, sistem pelapisan sosial dibagi dua, yaitu tertutup (closed social stratification) dan terbuka (open social stratification). Pada pelapisan sosial terbuka, setiap anggota masyarakat memiliki kesempatan dengan kecakapan sendiri untuk naik ke lapisan yang lebih atas. Adapun dalam pelapisan tertutup, anggota masyarakat tidak bisa mengubah stratifikasi nya. Dalam hal ini status sosial diwariskan melalui kelahiran, contohnya sistem kasta di India.

Sunber : http://courses.yahubs.com/dinamika-dan-pewarisan-budaya-dalam-rangka-integrasi-nasional/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar